SejarahTravel

Museum Linggarjati – Gedung Bersejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Museum Linggarjati pada tahun 1918 awalnya hanyalah sebuah rumah kecil (gubuk) milik Ibu Jasitem. Bangunan ini kemudian berubah fungsi seiring berjalannya waktu hingga dipakai untuk tempat berunding antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Persetujuan Linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut dengan nama Gedung Perundingan Linggarjati.

Gedung ini terletak di bagian timur Kota Kuningan. Tepatnya di Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Gedung Perundingan Linggarjati yang memiliki luas bangunan  800 m2  dan luas tanah 25.675 m2 ini terletak pada ketinggian 613 meter di atas permukaan air laut.

Tampak depan Gedung Perundingan Linggarjati

Gedung tua yang bergaya kolonial Belanda ini sempat mengalami pergantian fungsi dan kepemilikan. Berikut adalah riwayat Gedung Perundingan Linggarjati:

  1. Tahun 1918.  Di tempat ini berdiri sebuah gubuk milik seseorang bernama Ibu Jasitem.
  2. Tahun 1921. Bangunan ini dirombak menjadi semi permanen oleh seorang bangsa Belanda yang bernama Tersana (Mergen).
  3. Tahun 1930. Bangunan ini dibangun menjadi permanen dan dijadikan rumah tinggal oleh Jacobus (Koos) Van Os yang berkebangsaan Belanda.
  4. Tahun 1935. Bangunan ini diubah menjadi Hotel bernama Rustoord setelah di kontrak oleh Heiker (bangsa Belanda).
  5. Tahun 1942. Pada saat Jepang menjajah Inndonesia, hotel ini diubah namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan.
  6. Tahun 1945. Hotel ini diubah namanya kembali menjadi Hotel Merdeka setelah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia.
  7. Tahun 1946. Pada tahun ini berlangsung peristiwa sejarah yaitu perundingan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Persetujuan Linggarjati.
  8. Tahun 1948-1950. Sejak Belanda melancarkan aksi militer ke II di Indonesia, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda.
  9. Tahun 1950-1975. Bangunan ini berubah fungsi kembali menjadi Sekolah Dasar Negeri Linggarjati.
  10. Tahun 1976. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan oleh Pemerintah Pusat untuk dijadikan museum hingga saat ini.
Gedung tampak belakang

Perundingan antara Pemerintah Indonesia, yang diwakilkan oleh Sutan Sjahrir sebagai Ketua, Mr Soesanto Tirtoprodjo, Dr. Adnan Kapau Gani, dan Mr. Mohammad Roem sebagai anggota dan Pemerintah Belanda, yang diwakilkan oleh Prof. Dr.Ir.Schermerhorn sebagai ketua, Mr. Van Poll, Dr.F.De Boer, dan Dr.Van Mook sebagai anggota dengan seorang penengah, yang berasal dari Inggirs, bernama Lord Killearn, berlangsung pada tanggal 11 hingga 13 November 1946. Langkah ini merupakan cara pemerintah mengusir penjajah Belanda melalui jalur hukum. Dalam perundingan ini juga dihasilkan 3 isi pokok, yaitu:

  1.  Pemerintah Belanda mengakui kenyataan kekuasaan de facto Pemerintah Republik Indonesia atas Jawa, Madura, dan Sumatera.
  2. Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama membentuk Negara Indonesia Serikat (NIS) dan Republik Indonesia menjadi salah satu bagiannya.
  3. Republik Indonesia Serikat (RIS) akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai Ketua Uni.

Posisi yang luar biasa strategis ini menjadi keuntungan bagi para pengunjung, karena begitu masuk ke area Gedung Perundingan Linggarjati cuaca sejuk yang berasal dari pegunungan ciremai akan sangat terasa, serta pemandangan Gunung Ciremai yang tinggi menjulang bisa dinikmati oleh setiap pengunjung yang datang.

Ruangan tempat perundingan berlangsung. Lengkap dengan meja dan kursi.

Saat masuk kedalam museum, rasa khidmat pun muncul. Pengunjung akan merasa dibawa kedalam napak tilas para pejuang yang saat itu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Meja perundingan disusun sedemikian sehingga bisa memberikan gambaran kepada pengunjung bagaimana perundingan berlangsung. Pada ruangan ini, selain meja perundingan, juga terdapat diaroma, dokumen foto yang terpajang di dinding museum, dan peninggalan benda-benda lainnya.

Lebih dalam menuju ruangan, pengunjung akan menemukan kamar untuk menginap para delegasi, ruang sidang, ruang sekretaris, ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar mandi, ruang makan, gudang dan miniatur perundingan (diaroma). Untuk bagian dalam kamar tidur, kebanyakan sudah replika ya, dibuat semirip mungkin seperti aslinya. Oh ya disetiap kursi yang menjadi barang peninggalan, tidak boleh diduduki ya!

Taman yang rindang dipenuhi pohon.

Lanjut menuju belakang, terdapat sebuah taman yang sangat luas dan rindang. Hawa dingin nan sejuk mengiringi setiap langkah kita saat berkeliling taman ini. Maklum, daerah tempat bangunan ini berdiri merupakan dataran tinggi. Kalian dapat bersantai-santai ditaman atau dibawah pohon ini dengan gratis dengan tikar yang sudah disiapkan untuk bersantai.

Tugu yang terletak belakang gedung.

Menuju keluar taman, terdapat sebuah monumen atau tugu dengan dilengkapi gambar 3 orang dengan 2 orang bersalaman dan 1 orang ditengahnya. Tepat dibawah gambar tersebut, tertulis 3 isi pokok perundingan yang sudah saya jabarkan diatas, serta dilengkapi dengan ukiran lima pilar masyarakat Indonesia yang dibangun di atas monumen. Kelima pilar tersebut antara lain, petani, pemuka agama, wanita, tentara, dan pemuda yang saling berangkulan. Hal ini sebagai wujud kekuatan utama bangsa Indonesia yang teguh membela kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi.

Tiket masuk yang cukup terjangkau.

Apabila kalian ingin mengunjungi tempat ini, bisa membawa rombongan ataupun sendiri juga bisa. Harga tiket masuknya sangat murah, hanya 2000 rupiah saja. Harga yang sangat murah untuk sebuah objek wisata sejarah. Apalagi dengah harga 2000, kalian bisa mendapat pengetahuan yang tak ternilai harganya. Kalian juga bisa menyewa tur guide yang berguna untuk menjelaskan secara detail setiap tempat dan peristiwa yang terjadi pada saat itu.

Buku tentang Gedung Perundingan Linggarjati

Pada loket pembayaran tiket, disediakan juga sebuah buku sejarah lengkap mengenai gedung ini dengan harga 5000 rupiah. Mulai dari sejarah Desa Linggajati, Benda peninggalan di Linggajati, kronologis proses perundingan, sejarah perundingan, dan persetujuan linggarjati yang berisi 17 pasal. Kalian bisa melihat pasal ini di sebelah kiri saat kalian masuk ke pintu masuk pertama.

Lahan parkir dengan pemandangan Gunung Ciremai

Ingin membawa rombongan dengan menggunakan travel atau mungkin kendaraan besar seperi bis? Bisa kok. Parkir yang disediakan sangatlah luas. Sudah cukup untuk sebuah objek wisata. Dari tempat parkir ini pula, kita bisa melihat secara jelas pemandangan Gunung Ciremai yang menjulang tinggi sekali. Walaupun kalian berkunjung saat siang hari, tidak akan terasa panas karena hawa dan angin disini dingin efek di daratan tinggi.

Cukup sudah perjalanan saya berkunjung ke Gedung Perundingan Linggarjati. Saya harap apa yang saya bagikan dapat bermanfaat bagi kalian yang ingin mengunjungi tempat ini. Saya sungguh menikmati perjalanan berkunjung ke tempat yang bersejarah ini. Dengan tiket masuk yang relatif murah, saya rasa sangat-sangat berguna dan tidak sebanding dengan informasi yang diperoleh saat mengunjunginya. Kita bisa mendapatkan sejarah yang sangat bermanfaat.

Comment dan share bila kalian suka, kirim kritik dan saran melalui komentar bila kalian tidak suka. Ohya, jika dalam penulisan terdapat salah kata, mohon untuk dikoreksi ya! Saya akan memperbaikinya. Setiap foto yang terdapat dalam artikel ini merupakan hasil jepretan saya ya, hanya ada satu foto yang saya ambil dari google karena terlewat saat berfoto. Terima kasih.

Galeri Foto

 

 

Kisna Hafizh

Seorang blogger pemula yang mengawali karir di blogspot dan hijrah ke wordpress

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker