SejarahTravel

Pesanggrahan Ambarukmo – Situs Sejarah di Tengah Modernisasi Yogyakarta

Terletak di Antara Ambarukmo Plaza dan Royal Ambarukmo

Pesanggrahan Ambarukmo yang terletak persis di tepi Jalan Solo ini seakan-akan lenyap dengan berdirinya dua bangunan raksasa disekelilingnya, Ambarukmo Plaza dan Royal Ambarukmo. Posisi yang terletak didalam kompleks Ambarukmo Hotel&Plaza ini membuat banyak orang tidak menyadari bahwa ada cagar budaya yang terletak diantara kedua bangunan tersebut.

Bangunan ini merupakan milik Keraton Yogyakarta. Dibangun pada masa pemerintahan Hamengkubuwana V dan selesai dibangun pada masa Hamengkubuwana VII. Pada awalnya, bangunan itu digunakan tamu kerajaan menanti kedatangan Sultan. Di situlah biasanya Sultan menerima tamu dari Keraton Kasunanan Surakarta. Namun, pesanggrahan ini tidak digunakan kembali ketika sudah dibangun jalan kereta api. Tamu yang berasal dari Surakarta dapat langsung menuju Yogyakarta menggunakan kereta dan turun di stasiun tanpa melewat pesanggrahan Ambarukmo ini.

Hotel Royal Ambarukmo

Pada awalnya saya kebingungan untuk mengunjungi tempat ini. Saya pun bertanya kepada penjaga depan Ambarukmo Plaza mengenai tempat ini dan diarahkan parkir menuju Royal Ambarukmo. Ketika di parkiran, lantas saya bertanya kembali ke petugas hotel tersebut, namun ada kesalahpahaman antara tempat yang saya ingin kunjungi, petugas hotel tersebut mengira saya ingin ke ballroom keraton di lantai 8 hotel. Disini saya bingung, kok tempat pesanggrahan ini ada di lantai 8? Lalu saya memastikan kembali dan bertanya ke petugas hotel lainnya dan diarahkan ke pesanggrahan yang saya maksud. Ketika sampai di Pesanggrahan Ambarukmo, ternyata lokasinya sangat dekat dari Ambarukmo Plaza (dan saya menyesal kenapa tidak parkir di Amplaz). Terletak di sebelah timur persis mall dan dekat tempat parkir.

Dekat dengan Ambarukmo Plaza

Pesanggrahan ini di pakai sebagai tempat tinggal Sultan Hamengku Buwono  VII setelah turun tahta untuk madheg pandito. Sultan Hamengku buwono VII merupakan sultan yang terkaya karenanya beliau juga dijuluki Sultan Sugih (Kaya). Karena pada masa itu setiap pendirian pabrik Sultan menerima dana sebesar Rp. 200.000,-, dan pada masa pemerintahannya pemerintahan Belanda membangun banyak sekali pabrik termasuk sekitar 20 pabrik gula.

Ada satu peristiwa unik saat Sultan turun tahta, yaitu sultan turun tahta ketika ia masih hidup (Biasanya dalam pergantian takhta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia). HB VII dengan besar hati mengikuti kemauan sang anak (yang di dalam istilah Jawa dikenal sebagai mikul dhuwur mendhem jero) yang secara politis telah menguasai kondisi di dalam pemerintahan kerajaan.

Setelah turun takhta, Hamengkubuwono VII pernah mengatakan “Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya” yang artinya masih dipertanyakan.

Tetapi, perkataan Hamengkubuwono VII benar, saat ini ada dua raja setelah Hamengkubuwono VII yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII (meninggal dunia setelah menjemput putra mahkota, GRM Dorojatun, dari Batavia) dan Hamengkubuwono IX (meninggal dunia di Amerika Serikat). Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwono VII meninggal di Pesanggrahan Ngambarrukma pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Makam Imogiri.

Pesanggrahan ini juga ada kaitannya dengan sejarah Kabupaten Sleman. Ketika awal pembentukan kabupaten, tempat ini digunakan sebagai kantor pusat pemerintahan. Ada 4 orang bupati yang pernah berkantor di tempat ini, diantaranya yakni KRT Pringgodiningrat, KRT Projodiningrat , KRT Dipodiningrat, KRT Prawirodiningrat, dan KRT Murdodiningrat.

Kembali ke pesanggrahannya, Kedaton Ambarukmo memiliki beberapa bagian yaitu Pendapa sebagi tempat paling depan, Paretan atau penghubung Pendapa dengan teras depan, Pringgitan (teras depan), Dalem Ageng (bangunan utama), Gadri (teras belakang), dan Bale Kambang (sebuah bangunan diatas kolam yang konon menjadi tempat semedi HB VII). Tempat ini dibuka untuk umum setiap hari Senin sampai Sabtu (Minggu libur) dan pengunjung diwajibkan untuk mengisi buku tamu yang sudah disediakan.

Bentuk bangunannya masih tampak seperti asli walaupun sudah dilakukan renovasi bangunan. Lantai utama juga diganti dengan keramik karena sebagian mengalami kerusakan. Ruangan paling depan berisi koleksi foto-foto Sultan Hamengkubuwana I sampai Sultan Hamengkubuwana X. Tidak ketinggalan simbol atau lambang Kraton Yogyakarta lengkap dengan penjelasannya. Dibagian tengah dekat pintu masuk terdapat sebuah buku mengulas tentang sejarah Ambarukmo dari pesanggrahan hingga hotel yang berdiri disampingnya.

Disini terdapat 4 kamar yang masing-masing isinya berbeda. Didalam ruangan tersebut terdapat berbagai macam batik yang dipamerkan khas keraton lengkap dengan penjelasannya. Lalu di sampingnya terdapat ruangan yang memamerkan tokoh-tokoh pewayangan yang dikemas dengan wayang kulit. Ruangan yang lainnya merupakan tempat menaruh barang-barang pusaka milik keraton yang tertata rapih, Dan ruangan paling depan bagian timur, kononnya merupakan tempat HB VII mangkat, kamar ini tidak dibuka untuk umum namun bisa dilihat melalui kaca yang terdapat di pintu.

Setelah menelusuri bangunan pertama, saya bergeser kebelakang dan disana terdapat bagunan cantik dengan dikelilingi air. Bangunan tersebut adalah Bale Kambang, konon tempat ini digunakan untuk semedi HB VII. Bangunan ini memiliki dua lantai. Sekarang, lantai bawah digunakan sebagai tempat menaruh kursi-kursi (untuk acara) dan dilantai dua sebagai tempat untuk diadakannya acara (dikelola oleh hotel Ambarukmo). Kalian boleh mengunjungi tempat ini kalau tidak ada acara ya! Kemudian saya bertanya kepada mas-mas pengurus tempat ini, katanya kolam yang mengelilingi Bale Kambang ini sudah ada sejak dahulu, bahkan sebelum dibangun (katanya lho ya..)

Disisi barat, terdapat bangunan bergaya keraton. Saat saya mendekat, terdapat tulisan “private area”, saya pun bertanya-tanya tempat apakah itu? Kemudian saya bertanya kepada penjaga yang duduk di depan dan beliau memberi tahu bahwa tempat tersebut disewa untuk dijadikan spa. Bangunan tersebut dikelola oleh keraton, namun “daripada tidak terpakai makanya di sewakan saja” jelasnya. Beliau juga menjelaskan bahwa pendopo dan Bale Kambang biasanya digunakan sebagai tempat acara yang diadakan oleh Hotel.

Walaupun kita sekarang ada dijaman modernisasi, kita tidak boleh mengabaikan tempat yang memiliki sejarah seperti Pesanggrahan ini. Kita harus menjaga dan melestarikan dengan cara tidak membuang sampah dan mencoret-coret tempat yang bersejarah. Ohya, kalian tidak dipungut biaya alias gratis jika ingin mengunjungi tempat ini. Jaga sopan santun juga saat berkunjung ya!

Cara Menuju Lokasi

Untuk menuju lokasi ini, kalian bisa menggunakan angkutan umum berupa bus transjogja jalur 1A dan 1B turun di halte Ambarukmo atau bisa juga dengan menggunakan bus kota jalur 7 turun di depan Ambarukmo Plaza. Kalian juga bisa menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat.

Galeri Foto

 

 

 

 

 

 

Maps

Itulah perjalanan singkat saya ketika mengunjungi situs bersejarah ini. Saya menyadari bahwa dalam menulis artikel masih terdapat kekurangan, oleh sebab itu saya sangat-sangat menerima apabila kalian memberikan kritik dan saran. Semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah sejarah yang awalnya tidak mengerti menjadi mengerti. Comment dan bagikan artikel ini jika kalian suka, beri kritik dan saran melalui komentar bila ada kesalahan dalam artikel ini. Terima kasih 🙂

-Kisna Hafizh J.

Source
KEDATON AMBARUKMO (YOGYAKARTA); Laurentia Dewi

Kisna Hafizh

Seorang blogger pemula yang mengawali karir di blogspot dan hijrah ke wordpress

Related Articles

Check Also

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker